“Tentu saja! Aku masih berharap bertemu bidadari.” (Da Riaz)

***

Hidup dan kehidupan secara utuh yang kita lewati adalah pengalaman paling berharga yang mesti disyukuri. Kadang karena terlanjur fokus membahas apa yang terjadi di dalam hidup kita menjadi lupa akan kehidupan itu sendiri. Cinta, amarah, niaga, hobi dan lain hal adalah bonus lain dari hidup yang bisa kita rasakan. Seperti halnya pelbagai kesempatan dalam hidup, menjalani kehidupan serupa dengan menjalani sesuatu yang telah kita menangkan audisinya. Kita berada pada posisi pemenang dalam kasta para makhluk dan kita jauh lebih beruntung dari elemen-elemen semesta yang tidak memiliki bentuk. Kita telah diberkati dengan diberikan kesempatan untuk hidup sebagai manusia oleh Tuhan.

Saya sedang mendengarkan untaian melodi dengan judul “Tribute” yang digubah oleh salah seorang pianis dan komponis terbaik dunia, Yanni. Isntrumentalia ini terdengar sangat indah bukan hanya karena muatan musikalnya yang sangat kaya namun juga mengusung semangat untuk memberikan penghargaan dan penghormatan. Dalam agama Islam juga dikenal satu bentuk ritual dengan tujuan yang sama yaitu kurban. Dari dua hal ini saja kita bisa melihat bahwa untuk memberikan penghormatan harus ada persembahan yang kita buat atau sesuatu yang kita korbankan. “Lalu apakah hal semacam ini perlu? Iya. Mengapa?”

Ada dua cara pandang paling populer terhadap kehidupan, pertama: Jatah umur manusia dianggap terlampau pendek untuk melakukan banyak hal. Kedua: Jatah umur manusia dianggap terlalu panjang untuk melakukan sedikit hal. Mirip bukan? Namun tentu saja tidak sama.

Secara lebih khusus, sebetulnya dua gandeng kalimat di atas bisa kita temukan dalam satu hari yang kita jalani. Pada pagi hari kita merasa bahwa hidup akan berjalan sangat panjang, setidaknya sampai matahari terbenan. Dan ketika malam telah larut kita merasa bahwa satu hari yang telah berlalu tidak menghasilkan banyak hal berharga. Saya pribadi, hampir mengatakan bahwa pertukaran hari demi hari dengan membawa anggapan di atas adalah salah satu fitrah manusia. Bagaimana tidak? hampir setiap hari akan berlalu dengan cara yang sama. Bukti bahwa ini adalah fakta yang sudah menahun lamanya, ada pepatah yang mengatakan, “Hari pagi dikejar-kejar, hari petang dibuang-buang” atau sebaliknya, “Hari pagi dibuang-buang, hari petang dikejar-kejar”.

Baik anggapan yang kita pakai pendek ataupun panjang dalam melihat jatah umur untuk hidup ini. Saya pikir memasukkan diri ke dalam dua kemungkinan itu saja, tidak akan membuat kita menjadi lebih baik dengan diberikannya hidup oleh Tuhan. Bagi yang mempercayai bahwa akhirat adalah nyata setelah kita mati, kira-kira apa yang akan kita banggakan ketika bertemu Tuhan kelak?

Melakukan perbandingan dengan apa yang dilakukan oleh para ilmuwan yang karyanya dikenal sepanjang masa oleh dunia, saya menjadi kikuk. Bahkan ketika dibandingkan dengan seorang seniman seperti Yanni atau yang lebih tidak termasyhur karyanya, saya menjadi terdiam lama.

“Apa yang kira-kira bisa saya persembahkan untuk kehidupan ini, syukur-syukur untuk Tuhan?”

Tiba-tiba pointer mouse saya hinggap di salah satu poto seorang kawan yang melaksanakan ijab kabulnya siang tadi di Indonesia. Sebuah pertanda yang mengingatkan saya kepada harga yang telah dibeli oleh kawan ini kepada Tuhannya, setengah dari agama. Tentu tak ada yang tahu pasti berapa ukuran setengah agama ini, apakah berarti setengah syurga atau lebih dari itu atau bahkan bisa jadi tidak sampai? Tapi kembali, hal itu bukanlah sebuah masalah karena tawaran yang diberikan Tuhan sudah sangat menggiurkan pada sesuatu yang bernama “pernikahan”. Saya melihat kesempatan untuk melakukan tribute yang besar bisa hadir dari hubungan yang kita sebut dengan cinta-dua insan ini.

Ide ini muncul dengan indahnya dan hadir dengan leganya. Ibarat setelah melakukan perjalanan jauh dan dalam keadaan sangat haus saya menemukan segelas air putih nan sejuk. Ah, sungguh nyaman dan enak. Bayangan mampu menyumbangakan sebuah pagelaran-cinta yang indah dan berarti teruntuk Tuhan membuat saya merasa luar biasa malam ini. Sekarang mungkin langkah awal adalah mencari partner yang pas untuk melakukan pagelaran-cinta ini. Jika saya adalah pangerannya tentu yang akan saya cari yang mampu memerankan sosok“bidadari” untuk persembahan seumur hidup ini.

Tidak seperti mencari seorang calon aktor atau aktris untuk pagelaran seni biasa, mencari seorang partner yang mampu menemani saya dalam pagelaran-cinta ini tampaknya akan sangat sulit. Bagian paling sulit tentu saja bagaimana menemukan seorang yang memiliki kesamaan ide dengan saya tentang cerita dan inti persembahan yang akan kami tampilkan. Seseorang yang bisa memahami dengan cepat, tepat dan mampu melakukan improvisasi tanpa mesti terlihat sama dengan saya. Ada beberapa sosok yang terlintas di benak saya, namun tak satupun yang sesuai dengan kebutuhan saya kali ini.

Bukan berarti tidak ada yang pantas atau tidak ada yang saya sukai untuk memerankan tokoh bidadari ini. Banyak yang saya sukai dan kagumi kemampuannya, sangat banyak malah. Namun yang saya butuhkan? Belum ada satupun yang mencogok dan entah untuk berapa lama.

Harga setengah dari agama yang ditawarkan Tuhan itu ternyata memang sangat mahal. Beruntunglah bagi orang yang telah mencukupkan pilihannya dan saat ini telah menjalani proses pagelaran-cinta mereka. Meski masih terngiang-ngiang di telinga saya untuk mencoba mencukupkan pilihan pada apa yang ada saja, namun keinginan untuk mempersembahkan sebuah pagelaran-cinta yang benar-benar luar biasa kepada Tuhan terlanjur besar di dalam hati.

Hidup memang tidak menyediakan fasilitas yang lengkap dan mudah. Bahkan pusat perbelanjaan yang ada seperti Carefour masih belum mampu dalam hal yang satu ini, lengkap dan mudah. Kebanyakan hanya memberikan kemudahan untuk mendapatkan banyak pilihan namun tidak betul-betul lengkap dan sesuai sepenuhnya dengan selera kita. Seperti halnya ketika saya ingin mencari teh favorit saya di super market, banyak sekali jenis teh yang dipajang disana. Namun tidak ada satu jenispun yang saya inginkan tersedia disana. Kemudian saya pindah ke market yang lain, ada satu jenis yang sama namun berbeda rasa dan itu adalah pilihan terakhir dan terbaik yang disedikan oleh market-market sejenis.

Sebetulnya ada sebuah tempat yang menyediakan segala jenis teh yang saya sukai, dan saya yakin bisa memuaskan keinginan saya. Masalahnya adalah, tempat itu sangat jauh dari rumah dan harga teh disana juga sangat mahal. Tidak hanya ongkos untuk menuju kesana yang saya harus pikirkan namun juga harga teh yang sangat mahal dan bisa saja selalu naik berlipat ganda setiap harinya.

Jika, teh favorit dan tempat satu-satunya tadi adalah tamsil dari cinta yang saya butuhkan. Maka, saya rasa pagelaran-cinta yang direncanakan ini harus ditunda sampai pada saat dimana semuanya telah siap dengan matang. Meski ada yang mengatakan,

“Bagaimana jika ternyata kau tak pernah menjadi siap dan persiapanmu tak pernah matang? Atau Tuhan dan hidup tidak memberimu kesempatan untuk melakukan pagelaran seperti yang kau harapkan? Mengapa tidak segera saja engkau pilih seseorang yang bisa jadi tidak menjamin kebutuhanmu, namun bisa kau ajari seiring dengan berjalannya waktu?”

Sejenak saya tercenung dan berpikir bahwa semua yang diungkapkannya itu ada benarnya. Sebagaimana yang banyak dilakukan oleh orang lain, yang mencukupkan pencariannya dengan mudah dan berserah pada waktu. Namun, saya juga melihat adanya permainan takdir yang tidak bisa kita kuasai. Takdir yang menyebabkan mereka memilih dengan cepat, atau pilihan yang cepat itu adalah takdir mereka. Sedangkan saya? Bisa jadi takdir yang meminta saya untuk menunggu, atau saya menunggu adalah bagian dari takdir cinta saya. Lalu apakah salah jika tetap meneruskan penantian ini?

Setidak-tidaknya, dengan menunggu saya bisa mempersiapkan segala sesuatu dengan lebih baik. Dan semoga saja seseorang yang saya tunggu juga sedang melakukan hal yang sama dimanapun ia berada. Sehingga ketika kami bertemu, pagelaran-cinta yang akan kami persembahkan tidak lagi disibukkan pada hal-hal kecil atau persiapan-persiapan dasar apalagi hanya tentang belajar memilih sikap atau tindakan yang akan ditampilkan.

Mungkin menjadi salah jika saya putuskan untuk menunggu namun tidak menaruh perhatian pada misi ini, atau tidak melakukan apa-apa untuk itu. Saya menanti tidak dengan hiasan khayalan kosong yang akan membuat sengsara atau berbunga-bunga pada sesuatu yang belum jelas. Penantian ini seperti halnya seorang petani apel yang juga menanam bawang di sudut-sudut kosong kebunnya. Meski agak lama memakan waktu untuk panen, namun ia memperoleh hasil yang lebih.

Untuk malam ini, saya kirimkan salam bahagia dan selamat bagi siapa saya yang telah memulai proses pagelaran-cintanya. Semoga saja ini dianggap doa oleh Tuhan sehingga malaikat turut memberikan balasan doa-doa yang suci. Ada senyuman terindah yang sedang saya simpan, untuk bisa menyaksikan sebuah pagelaran-cinta agung yang akan dipersembahkan oleh semua penerima hidup teruntuk Sang Pemberi Hidup yang Maha Hidup nantinya.

Dan meski seperti berhenti, namun tentu saja saya masih terus berharap bertemu dengan seorang bidadari. drz

Cairo – 17 Juni 2012

About the author

dariaz Da Riaz: Web Bloger | Writer | Learner | A Self-Traveler | from Batusangkar, Indonesia. He started to build Angkasa Hati (Sky Heart) in 2007 for the first time. After two year vacuum Da Riaz rebuild this web blog and use the same name. The main idea of this web blog is his journey story include his literary works and philosophy.

You might also like these post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>