(Puisi Lama Da Riaz)
Riakan nil bersenandung desauan sahara.
Menjemput biru lembut langit kinanah,
Memboncengi angin.
Menghela setengah diam,
Dalam tanjak terbang,
Menuju awang-awang mimpi insan ini.
Ragam asa dihimbau kembali,
Menyawai panas agar menjadi uap,
Untuk kitari lekuk dada.
Tidak kepala tapi kalbu,
Bersorak senyaring genta benteng qibtiyah,
Menjalari segenap jiwa, mendebarkan.
Mendongakkan nafas,
Membisiki lembut kisi hati,
Seraya jantung menggumami kejernihan cahaya “mu”.
“Terang…Terang…”
Menjampi waktu dengan kata-kata.
Berolok dengan ke EsaanNya.
Karena sungguh harap ku pada”mu”.
Tak sebesar kuasa Nya padaku.
2008 – Cairo

